Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 10 November 2011

UPACARA MEWINTEN


       Upacara Mawinten bermakna pembersihan diri secara lahir batin, secara lahir, diri dibersihkan atau dimandikan dengan air yang telah disatukan dengan berbagai aneka bunga/kembang, sedangkan secara batin, memohon kepada Hyang Widhi Tuhan (Yang Maha Esa) agar dapat diberikan penyucian diri, tuntunan dan bimbingan dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang bersifat suci seperti kesusilaan, kitab Weda, susastra weda, lalu selanjutnya dapat diamalkan dan dijalankan dalam kehidupan diri sendiri maupun kepada orang lain yang memerlukannya.
     
      Mawinten berasal dari bahasa jawa kuno, mawa arti nya bersinar dan inten arti nya intan (permata) berwarna putih/suci kemilau/bersinar dan mempunyai sifat mulia, bila diuraikan mempunyai pengertian, dengan upacara Mawinten ini orang yang melaksanakannya secara lahir batin akan suci, berkilau dan bersinar  bagaikan permata juga dapat bermanfaat bagi orang banyak.
     
      Umat Hindu di Bali meyakini, wajib hukumnya melaksanakan upacara Mawinten ini yang berguna untuk penyucian diri secara lahir batin dan sarat dengan nilai nilai kerohanian yang tinggi dan mendalam. Upacara Mawinten bisa dilaksanakan oleh siapa saja. Dalam Mawinten ada 3 tingkatan upacara dan itu tergantung dari keadaan orang yang akan menjalankannya :

  1. Mawinten dengan ayaban saraswati sederhana adalah upacara pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma yang mencipta ilmu pengetahuan, yang melaksankannya pawintenan ini, yang baru belajar agama, pegawai kantor agama, dll.
  2. Mawinten dengan ayaban bebangkit upacara medium adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bethara Gana sebagai putra  Siwa yang berfungsi sebagai pelindung manusia, yang melaksankannya pawintenan ini para tukang, sangging, tukang banten, dll.
  3. Mawinten dengan ayaban catur upacara utama adalah pensucian diri dengan memuja para Dewa : Iswara, Brahma, Mahadewa dan Wisnu sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa, yang melaksankannya pawintenan ini para pemangku, dalang, pendeta, dll.

      Pada umumnya pelaksanakan upacara Mawinten ini, di lakukan saat menjelang upacara Penyineban atau hari penutupan Piodalan (ulang tahun pura) yang disebut dengan Nyurud Hayu. Nyurud artinya memohon dan Hayu artinya keselamatan. Jadi nyurud hayu adalah memohon keselamatan Kepada Hyang Widhi Wasa, Bhatara-Bhatari dan Leluhur.
     
      Upacara Mawinten ini bisa juga dilaksanakan pada saat bulan purnama, dengan maksud agar pembersihan dan penyucian terhadap dirinya benar benar bersih serta terang benderang dan berkilau seperti sinar bulan purnama
     
      Tempat penyelenggaraan upacara Mawinten ini umumnya di Pura. Prosepsi Mawinten untuk Pamangku, biasanya dilaksanakan ditempat dimana mereka akan mengabdikan diri sebagai Pamangku, misalnya di Pura Dalem, Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dhang Kahyangan, Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat atau di Sanggah atau Merajan. Adapun pemimpin upacara Mawinten adalah seorang Pendeta. Di beberapa desa di Bali atau di luar Bali yang tidak mempunyai pendeta, upacara Mawinten dapat dilaksanakan dengan cara memohon kehadapan Hyang Widhi Wasa yang diantar oleh pamangku senior, dan Mawinten ini disebut Pawintenan ke Widhi.

      Proses upacara Mawinten adalah sebagai berikut :
     
  1. Upacara persiapan: diawali dengan pembersihan lahir seperti menyapu halaman pura, menata dengan baik alat-alat upacara pawintenan sesuai dengan tempatnya, memasang busana perlengkapan untuk palinggih yang akan dipakai menstanakan Tuhan dan manifestasiNya, upacara penyucian palinggih dengan menghaturkan sesajen.
  2. Upacara menstanakan Tuhan dan manifestasiNya, selanjutnya  mempersembahkan upakara-upakaranya dengan tujuan mohon agar beliau berkenan menjadi saksi dalam penyelenggaraan upacara pawintenan tersebut, sehingga upacara berjalan tertib, aman dan lancar.
  3. 3. Upacara melukat yaitu pembersihan diri dari yang akan diwinten dengan sarana air kelapa muda (klungah) yang telah dijadikan Tirtha oleh pendeta/pinandita melalui doa, puja dan mantra weda. Selanjutnya dipercikkan ke ubun-ubun dan badan yang diwinten.
  4. Upacara mabyakala bertujuan memberikan pengorbanan suci kepada mahluk halus (bhutakala) agar tidak mengganggu jalannya upacara.
  5. Upacara Maprayascita adalah memohon kekuatan-kekuatan Tuhan/manifestasiNya agar yang diwinten dapat memiliki pandangan yang suci.
  6. Upacara pengukuhan (masakapan, padudusan, marajah) yaitu upacara penetapan sesuai dengan jenis profesi kepamangkuan yang ditekuni, ditandai dengan sarana penyucian asapnya api (dudus) dan menulisi organ tubuh yang diwinten dengan aksara-aksara suci.
  7. Upacara mejaya-jaya yaitu upacara yang bertujuan menyatakan rasa syukur kehadapan Hyang Widhi Wasa, karena telah dapat dilaksanakan dengan baik.
  8. Upacara sembahyang, bertujuan mendekatkan diri kehadapan Hyang Widhi Wasa mohon tuntunan dan bimbinganNya agar yang diwinten dapat menjalankan kewajibannya sesuai jenis dan tingkatan pawintenannya.
      Upacara Mawinten adalah merupakan salah satu kewajiban setiap umat Hindu dalam upaya mewujudkan kesejahteraan lahir maupun kebahagiaan bathin (jagadhita dan moksa). Mengingat dari pandangan filosofis upacara Mawinten sarat dengan nilai-nilai kerohanian, etika, moral dan agama yang tinggi dan mendalam.
     
      Dari rangkaian upacara Mawinten yang disebutkan di atas, mempunyai makna sebagai berikut :
     
  • Dengan menenangkan diri dan memusatkan pikiran, maka akan dapat lebih terarah untuk mulai mempelajari ilmu pengetahuan.
  • Mengendalikan diri dan menuntun seseorang untuk berpikir, berkata dan berbuat sesuai dengan ajaran dharma.
  • Merupakan tahapan atau jenjang dalam pendakian spiritual.
  • Meningkatkan kebersihan dan kesucian diri pribadi.
  • Pengabdian, pelayanan kepada Hyang Widhi Wasa dan masyarakat

      Bagi mereka yang sudah melaksanakan Mawinten diwajibkan melakukan brata, tapa, yoga, semedhi. Makin tinggi tingkat Mawintennya makin ketat pelaksanaan brata, tapa, yoga, semedhi-nya, dan mereka harus rela melepaskan diri dari unsur ke duniawan.
     
      Brata adalah pengekangan hawa nafsu panca indra; Tapa adalah pengendalian diri agar selalu dalam jalur Dharma. Yoga adalah senantiasa memuja kebesaran dan kemuliaan sang Pencipta ( tuhan Yang Maha Esa ). Semedhi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri secara total pada kemahakuasaan sang Pencipta (Tuhan Yang Maha Esa).
     
      Swadharma seorang ekajati wajib melaksanakan dharma agama disertai dengan atribut yang dikenakan seorang ekajati yaitu kain, kampuh, baju, destar putih, dan tatanan rambut, semuanya disesuaikan dengan tingkatan Mawinten masing-masing. Mereka yang sudah Mawinten tidak boleh Menyantap suguhan di tempat orang meninggal/ngaben, turut memandikan layon/jenazah, termasuk  “cemer/cemar/kotor/tidak bersih ” .
     
      Apabila seseorang yang sudah Mawinten cemer, maka ia wajib mensucikan diri kembali dengan berbagai tingkatan cara sesuai dengan tingkat kecemerannya.
     
      Misalnya jika hanya menyantap makanan di tempat orang berhalangan kematian, cukup dengan meprayascita saja; jika sampai mengambil/ memegang jenazah wajib mengulangi upacara Mawintennya yang dinamakan upacara “masepuh
     
      Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bila kita ingin melakukan perbuatan baik hendaklah dengan hati yang bersih dan juga pikiran yang bersih , maka akan terlaksana dengan apa yang kita harapakan.